RSS

“Kunci Keberhasilan Dalam Beramal”

02 Mar

bersyukur-percaya-diriIlmu adalah faktor utama dan penunjang terkuat bagi kesuksesan seseorang, ia merupakan rukun atau pondasi hikmah. Oleh karena itu Allah memerintahkan dan mewajibkan agar seseorang berilmu lebih dahulu sebelum beramal dan berpendapat. Yang demikian itu dikarenakan bahwa Allah telah memerintahkan kepada nabi-Nya dua perkara, yaitu ilmu kemudian amal. Jangan sampai engkau menjadi orang yang dangkal ilmunya hingga menunjukkan kebodohan serta ketidak pahaman akan ilmu tersebut.

Dikatakan bahwa ilmu itu ada 3 tingkatan, barang siapa yang berada pada tingkatan pertama, maka dia akan sombong, dan barang siapa yang berada pada tingkatan yang kedua, maka dia akan tawadhu’, dan barang siapa yang berada pada tingkatan ketiga, maka dia akan mengetahui bahwa dirinya itu tidak punya ilmu.

Orang yang pertama itu sombong karena belum mengenal hakikat dirinya. Orang yang kedua bersikap tawadhu’, namun dia masih memandang dirinya sebagai orang yang berilmu, sedangkan orang yang ketiga akan mengetahui bahwa dirinya itu bodoh, yang tidak mengetahui apapun. Namun, yang ketiga ini apakah dia itu terpuji atau tercela? Jikalau engkau memandang bahwa dirimu orang bodoh, maka sudah pasti engkau tidak akan berani untuk berbuat. Oleh karena itu, sebagian pelajar tidak bisa bersikap tegas, dia selalu berkata, “Masalah ini tampaknya demikian atau ada kemungkinan bermakna demikian.” Oleh karena itu, selagi Allah memberikan ilmu kepadamu, maka anggaplah dirimu sebagai orang yang berilmu, tegaslah dalam menjawab semua masalah, jangan jadikan orang yang bertanya menjadi korban banyak kemungkinan, jika itu engkau lakukan maka engkau tidak akan bisa memberi faedah kepada orang lain, namun orang yang tidak memiliki ilmu yang mapan, maka seharusnya dia mengaku tidak mempunyai ilmu akan hal itu.

Menuntut ilmu merupakan ibadah yang paling utama yang bisa dijadikan media oleh seorang hamba untuk mendekatkan dirinya kepada Allah.

Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Apabila anak Adam meninggal dunia maka akan terputus amalnya kecuali tiga perkara: shodaqah jariyah (amal yang pahalnya selalu mengalir), ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendo’akannya.” (HR.Muslim).

Wahai penuntut ilmu….. semoga Allah menjaga kita semua dari kesalahan dalam menuntut ilmu dan mengetahui adab-adab yang benar dan menjauhi perkara-perkara yang dapat merusak ilmu tersebut.  Maka ketahuilah bahwa perkara yang paling merusak dalam menuntut ilmu adalah:

  • Menyebarkan rahasia
  • Menyitir ucapan suatu kaum, lalu disampaikan kepada kaum yang lain.
  • Kasar dan berlebihan dalam ucapan maupun perbuatan
  • Banyak bersendau gurau
  • Ikut campur urusan orang lain
  • Dengki
  • Hasad (iri)
  • Berburuk sangka
  • Berjalan menuju yang harom

Jauhilah semua perbuatan tercela ini dan perbuatan-perbuatan yang semisalnya, dan janganlah engkau melangkahkan kaki menuju ke tempat yang terlarang, jika engkau melanggar ini, maka berarti engkau orang yang lemah, tidak berbobot, tukang main-main, lalu bagaimana mungkin engkau bisa menjadi penuntut ilmu yang handal yang mempunyai ilmu serta mampu mengamalkannya?

Renungkanlah wahai penuntut ilmu…adakah semua hal yang merusak ilmu tersebut  telah hilang dari dirimu?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Maret 2011 in tafakur

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: