RSS

Muslimah Bertetangga

09 Mar


Adakalanya seorang wanita mengalami dilema yang sangat berkepanjangan dalam menapaki jalan yang mesti dilaluinya. Ada banyak tuntutan yang mesti dia lakukan bersamaan dengan berbagai aturan yang sangat harus dijaganya.

Pernah suatu ketika dalam sebuah perjalanan, seorang akhwat berkesempatan untuk berdialog dengan seorang ibu-ibu yang kebetulan berseberangan aqidah dengannya. Dari perbincangan tersebut, si ibu menyatakan ketakjubannya kepada akhwat tersebut. Apa pasal? Karena menurut pengakuan ibu tersebut, si akhwat ini termasuk dalam golongan kaum muslim yang ramah. Katanya, “Saya punya tetangga yang seperti mbak ini, tapi dia sangat tertutup. Jangankan berkumpul dan ngobrol-ngobrol dengan tetangganya. Bahkan keluar rumah pun tidak. Anaknya masih di luar rumah pas hujan lebat, juga nggak berusaha dicarinya. Alasannya kalo dia ditakdirkan Allah kembali pasti balik lagi ke rumah.” Masya Allah…! Inna lillah.

Ada benarnya juga peran besar seorang wanita, khusus ibu, itu di dalam rumah. Allah berfirman,

“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian.” (Q.S Al-Ahzab: 33)

Bahkan ada seorang ulama’ yang mengatakan apabila seorang wanita sering keluar dari rumahnya, apalagi tanpa alasan yang syar’i, maka akan memicu terjadinya kerusakan dan bahaya.

Syaikh Muhammad Asy-Syarif mengatakan dalam bukunya bahwa salah satu sebab keluarnya seorang wanita yang dibenarkan oleh syari’at adalah untuk menghadiri undangan pernikahan dan acara-acara sosial.

Islam menaruh perhatian khusus terhadap penanaman nilai-nilai cinta kasih sesama muslim sekaligus memagarinya agar tidak berkembang liar menjadi benalu yang menjerumuskan manusia pada jurang kebinasaan. Di sana juga ditetapkan kelonggaran bagi wanita untuk keluar dari rumahnya dalam rangka bersosialisasi dengan sesamanya tetapi  tentu saja harus ada perhatian khusus dalam kaidah-kaidah dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Karena jika seorang wanita hanya mengurung diri dalam rumah dan menutup diri dari bermasyarakat dengan tetangganya, bukan tidak mungkin dia hanya akan menjadi gunjingan masyarakat.

Sebuah kaidah umum yang berlaku dalam masyarakat bahwa kebaikan dan kebenaran dari seseorang yang tidak diterima oleh masyarakat sangat jarang akan dipandang baik di mata masyarakat. Seperti kasus di atas, mungkin seorang ibu itu berniat baik dengan menjaga dirinya, tetapi sayangnya niat tersebut malah dipandang negatf  oleh tetangganya yang masih awam (belum begitu mengenal Islam).

Jadi, ada baiknya bagi seorang wanita bersosialisasi dan bergaul dengan tetangganya dengan tetap memperhatikan batas-batas yang telah ditetapkan oleh syari’at. So… amalkan adab-adab bertetangga…! Wallahu a’lam.

Sumber: Diary Buletin An-Najma

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Maret 2011 in tafakur

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: