RSS

Kacamata dan Lensa Kontak antara Syar’i dan Medis

09 Apr

Perkembagan tekhnologi modern telah membawa manusia menuju era baru dalam kehidupan. Yakni ruang kehidupan yang diwarnai berbagai fasilitas serba modern. Bidang perawatan wajah dan kecantikan juga turut andil di dalam berbagai kesempatan dan peluang untuk memperoleh hasil maksimal dan memuaskan melalui cara yang ringkas, mudah dan cepat.

Berbagai fasilitas yang serba modern itu memang menjanjikan kemudahan bagi para penggunanya. Namun dalam realitanya, perkembangan tekhnologi ini juga sangat mempengaruhi gaya hidup dan cara pandang manusia. Yaitu gaya hidup yang serba mewah, serba mudah, enggan susah, dan ada kesan berlebih-lebihan bahkan keluar dari batasan yang disyariatkan.

Dewasa ini, sejalan dengan perkembangan tekhnologi, banyak bermunculan hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah ada. Hal-hal baru tersebut sangatlah banyak dan menjamur sehingga memunculkan pertanyaan baru yang membutuhkan sebuah kesimpulan  hukum. Utamanya segala sesuatu yang memiliki keterkaitan erat dengan pengubahan ciptaan Allah dan segala macam bentuknya.

Hukum Mengubah Ciptaan Allah

Allah telah menciptakan makhluk-Nya sesuai dengan keinginan-Nya. Dan penciptaan makhluk-Nya yang bernama manusia adalah merupakan penciptaan yang paling sempurna. Allah berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik.”

Mengubah ciptaan Allah walaupun sedikit berarti sama saja dengan menyerupai ciptaan Allah. Hukum dari perbuatan ini adalah haram, bahkan disebutkan oleh para ulama bahwa perbuatan ini merupakan dosa besar. Adapun kesimpulan hukum ini diambil dari adanya lafadz “la’ana”(mela’nat) dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Abdullah bin Mas’ud t berkata,

لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ…

“Allah mela’nat wanita-wanita pembuat tato, dan yang meminta dibuatkan; wanita-wanita yang meminta dihilangkan alisnya; serta wanita-wanita yang merenggangkan gigi demi kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah…”

Dalam hadist di atas terdapat kata la’nat yang berarti pengusiran dan dijauhkan dari kebaikan serta mengandung ma’na celaan. La’nat sebagaimana dikatakan Asy-Syaukani menunjukkan penegasan keharaman. Dan Rasulullah tidak mungkin mela’nat seseorang melainkan orang tersebut melakukan dosa dan kesalahan besar. Adapun dalil di atas merupakan dalil keumuman bagi semua bentuk pengubahan ciptaan Allah walaupun dengan bermacam-macam cara yang berbeda.

Hukum mengubah ciptaan Allah secara umum hukumnya terlarang. Namun di sisi lain banyak juga hadist yang memperbolehkan untuk melakukan hal itu. Di antaranya berkhitan, mencukur kumis, mencukur rambut, mencukur rambut kemaluan, mencabut rambut ketiak, memotong kuku, mewarnai uban, dan lain sebagainya. Dan kesemuanya ini tidak bertentangan karena ada nash yang menjelaskannya.

Namun, saat ini sangat banyak hal baru yang sebelumnya belum pernah ada. Maka untuk mengetahui hukum mengubah ciptaan-Nya yang dilarang dan diperbolehkan, ada beberapa hal atau kaidah yang perlu dipahami, khusunya para wanita, yaitu:

  1. Setiap larangan yang ada nash-nash syar’i maka hukumnya dilarang. Sedangkan, segala yang dibolehkan dan terkandung dalam nash syar’I –meski termasuk kategori mengubah ciptaan- maka hukumnya diperbolehkan.
  2. Perbuatan mengubah ciptaan yang tidak disebutkan secara spesifik dalam nash-nash syar’I, dihukumi sebagai berikut:
  • Jika perubahan tersebut bersifat mutlak (permanent) maka hukumnya dilarang. Berdasarkan keumuman dalil yang melarang mengubah ciptaan Allah.
  • Jika perubahan itu bersifat lahiriyah, namun terlihat samar bagi orang yang melihatnya sehingga terlihat sebagai perubahan mutlak, maka hukumnya sebagaimana perubahan yang bersifat mutlak yaitu diharamkan. Misal mewarnai rambut dengan semir hitam
  • Jika perubahannya bersifat lahiriyah, orang yang melihatnya tidak samar, dan perbuatan ini memang jelas-jelas diperbolehkan, maka hal ini boleh dilakukan. Misal mewarnai rambut dengan semir selain hitam.
  • Perubahan yang terjadi pada tubuh manusia karena pengaruh dari luar. Perubahan itu ditimbulkan oleh organ-organ tubuh. Dengan cara merangsangnya mengeluarkan beberapa kelenjar dengan obat tertentu sehingga dapat membantu organ tersebut berfungsi secara normal, maka hal seperti ini diperbolehkan. Wallahu a’lam

Lalu, yang masih menyisakan pertanyaan dalam benak adalah bagaimana hukum kacamata ataupun lensa kontak saat ini, yang mana pada sebahagian orang kedua fasilitas itu menjadi alat untuk memperjelas penglihatan, namun di sebagian yang lain kedua hal itu hanya menjadi alat untuk memperindah mata atau accesoris saja, tanpa ada kebutuhan di dalamnya?

Hukum Memakai Kacamata

Memakai kacamata hukum asalnya adalah diperbolehkan, karena fasilitas inilah yang dapat memudahkan seseorang yang mempunyai kelainan atau ketidaknormalan pada matanya untuk memperjelas penglihatannya.

Kacamata mempunyai peran penting bagi penderita mata minus, plus, silinder juga katarak. Ia merupakan sebuah solusi sederhana untuk mereka yang membutuhkan pengobatan sementara tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu besar, meskipun hasil dari alat ini tidak menjanjikan untuk kesehatan mata, bahkan dari sekian banyak pengguna kacamata menyatakan bahwa penggunaan kacamata hanya akan memanjakan mata tanpa mengurangi ketidaknormalan pada matanya.

Meskipun alat sederhana ini merupakan solusi sementara, namun penggunaan alat ini secara syar’I tetap diperbolehkan, karena ada kebutuhan didalamnya dengan tetap memperhatikan batasan-batasan syar’I yang berlaku. Misal, kacamata tersebut tidak ada sepuhan emas bagi seorang laki-laki, namun jika untuk wanita, maka diperbolehkan. Hal ini berdasarkan pada hadits nabi yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam musnadnya, An-Nasa’I dan At-Tirmidzi yang ia shahihkan, dari Abi Musa radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أُحِلَّ الذَّهَبُ وَ الحَرِيْرُ لِلإِنَاثِ مِنْ أُمَّتِي وَحُرِّمَ عَلَى ذُكُوْرِهَا

Dihalalkan emas dan sutera bagi kaum wanita dari kaumku dan diharamkan bagi kaum lelaki dari kaumku.”

Sedangkan yang disepuh dengan perak, diperbolehkan bagi wanita maupun pria, berdasarkan dalil riwayat Ahmad dan Abu Dawud bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِالْفِضَّةِ فَالْعَبُوْا بِهَا لَعْبًا

“Akan tetapi diperbolehkan perak bagi kalian, maka pergunakanlah.”

Hukum Memakai Lensa Kontak

Lensa kontak berfungsi untuk memperindah bola mata yang memiliki beberapa variasi warna pilihan, atau sebagai salah satu alternatif bagi mata mereka yang kekuatan penglihatannya kurang dan enggan menggunakan kacamata.

Lensa kontak merupakan penyempurnaan dan penyederhanaan dari kacamata. Ia berfungsi sama persis dengan kacamata, meskipun hanya berbeda pada bentuk dan penggunaannya. Cara penggunaan kacamata hanya tinggal menggatungkan saja di kedua telinga, sedangkan lensa kontak penggunaanya ditempel secara langsung di kornea mata penggunanya.

Secara syar’I, penggunaan lensa kontak untuk suatu keperluan tidak apa-apa, karena ia merupakan salah satu solusi medis yang akan sangat membantu mereka yang mempunyai cacat mata.

Yang menjadi pertanyaan, apakah lensa kontak bisa dikategorikan dengan mengubah kodrat ciptaan Allah?

Sebagaimana penjelasan sebelumnya, diantara larangan mengubah ciptaan Allah adalah perubahan yang bersifat permanent. Dan penggunaan lensa kontak tidak termasuk dari kategori mengubah ciptaan Allah, karena lensa kontak tidak bersifat permanent, sehingga tidak dapat disamakan dengan tato. Setiap saat lensa dapat ditanggalkan sesuai dengan ketentuan pemakaiannya menurut anjuran dokter.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa penggunaan lensa kontak harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, apakah menimbulkan dampak negative pada mata atau tidak, jika menimbulkan dampak negative, maka tidak diperbolehkan memakainya, karena ada bahaya yang mengenai mata. Sebab pada prinsipnya setiap bahaya yang dapat merugikan badan, hukumnya terlarang. Namun jika dokter memutuskan bahwa tidak ada dampak negative didalamnya, maka kita harus mempertimbangkannya sekali lagi. Jika lensa tersebut membuat mata tampak mirip dengan mata hewan maka haram memakainya. Tapi jika tidak mengubah mata, melainkan hanya warna mata dari hitam pekat menjadi kurang hitam atau warna lainnya, maka tidak masalah.

Namun bila bukan untuk suatu kebutuhan, maka lebih baik ditinggalkan, khususnya apabila harganya sangat mahal, karena bisa dikategorikan berlebih-lebihan yang diharamkan, juga mengandung unsur penipuan dan pengaburan, karena menampakkan mata bukan sebagaimana aslinya, tanpa adanya kebutuhan untuk itu. Pendapat seperti ini juga yang dikemukakan oleh Syaikh Sholih bin Fauzan Al-Fauzan rahimahullah.

Tapi apapun keadaannya, lebih utama bagi wanita untuk tidak menggunakannya, di samping hal itu lebih aman bagi matanya, juga aman bagi keselamatan kehormatannya dari pandangan laki-laki yang menganggapnya indah sehingga tertarik padanya.

Adapun jika penggunaannya hanya untuk berbangga diri dan sombong maka hal ini jelas terlarang. Begitu juga jika penggunaannya hanya berniat menipu agar seakan-akan matanya indah. Misal dengan lensa kontak yang berwarna hijau agar tampak cantik, maka yang seperti ini juga dilarang oleh syar’I sebab ada unsur penipuan. Sedangkan Islam melarang penipuan.

Bahaya dan Dampak Negative antara Kacamata dan Lensa Kontak

Pada umumnya, kacamata lebih sedikit dan lebih ringan bahayanya dari lensa kontak, itupun bukan pada kacamata pengobatan yang dianjurkan oleh para dokter atau ahli mata. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa kacamata minus, plus dan silinder sangat membantu bagi mereka penderita rabun jauh, rabun dekat dan silinder. Namun, yang perlu diperhatikan adalah keselektifan dan kehati-hatian dalam memilih kacamata.

Pengguna kacamata seharusnya memilih lensa kacamata yang akan digunakannya. Terdapat dua pilihan lensa, yaitu kaca dan plastic. Masing-masing memiliki keuntungan. Keuntungan lensa kaca adalah lebih tipis, tetapi lebih berat dan mudah pecah. Sedangkan lensa plastik lebih ringan dan tidak mudah pecah, tetapi lebih tebal dan mudah tergores.

Sejak beberapa tahun yang lalu, kebutuhan kacamata tidak lagi menjadi siksaan bagi penderitanya, setidaknya dari segi materi. Bagaimana tidak, pasar kacamata dibanjiri kacamata-kacamata dengan berbagai ukuran yang ringan, bermodel trendi dan ditawarkan dengan harga sangat terjangkau. Mereka yang rawan kehilangan kacamata atau yang memiliki reputasi mematahkan kacamata berkali-kali, mulai berpaling ke kacamata murah meriah ini.

Namun ternyata, hasil penelitian yang diberitakan di dailymail menunjukkan, kacamata-kacamata murah ini berisiko menyebabkan gangguan penglihatan permanen pada mata penggunanya. Bahkan gangguan yang ditimbulkan bisa sampai pada munculnya tumor otak. Selain itu, penggunaan kacamata dapat mengganggu aktivitas yang dilakukan penggunanya, kurang nyaman, karena terasa ada yang mengganjal di dekat hidung dan  telinga serta bila berada dalam lingkungan yang panas, kaca sering  berembun atau terkena keringat.

Berpaling dari efek kacamata, lensa kontak juga memiliki efek negative, bahkan jika dibandingkan dengan kacamata, efek negative dari lensa kontak jauh lebih besar bagi para pengguna yang tidak telaten dalam merawat dan menjaga kebersihan lensa. Di antara dampak negative dan beberapa kemungkinan fatal dari lensa kontak adalah:

  • Berdasarkan hasil penelitian sejak tahun 2003 yang dilakukan tim dokter dari Pusat Kornea, Universitas Illinois, Amerika Serikat, terjadi peningkatan jumlah kasus infeksi mata serius yang disebut dengan Acanthamoeba Castellani.

Acanthamoeba castellani adalah suatu mikroorganisme yang banyak ditemukan pada air terkontaminasi. Kontaminasi ini sering terjadi pada tempat penyimpanan lensa kontak. Seperti kurangnya menjaga higienitas saat menyimpan atau tidak mensterilkan lensa kontak dengan benar, akibatnya dapat menimbulkan infeksi pada mata. Penyakit mata ini biasanya disebut dengan Acanthamoeba Keratitis (AK) yang disebabkan oleh Acanthamoeba Castellani.

  • Iritasi.Lensa yang dilapisi oleh debu atau kotoran lainnya, bisa menyebabkan mata iritasi. Tandanya terasa tidak nyaman, gatal, belekan, merah, perih. Jika sudah demikan maka, solusinya tanggalkan lensa kontak kemudian cuci kembali dan jangan langsung dipakai lagi.
  • Lensanya bisa menyebabkan kerusakan kornea.Lensa kontak dapat menyebabkan topograpi kornea berubah untuk pemakaian jangka panjang. Bisa terjadi perubahan penglihatan.
  • Radang mata yang mengakibatkan mata merah.
  • Hypoxia yang disebabkan lensa terlalu ketat.
  • Kurangnya pengetahuan dalam penggunaan lensa kontak yang baik dan kurangnya penjagaan higienitas lensa kontak, bisa menimbulkan katarak pada mata.
  • Pengguna lensa kontak yang tidak memperhatikan kebersihan, dapat mengakibatkan masalah mata yang cukup serius seperti mata kering, penglihatan menjadi kabur, air mata yang meningkat, sensitif terhadap cahaya, gatal dan nyeri.  Jika gejala tersebut dibiarkan dan tidak dilakukan perawatan intensif bisa memicu terjadinya kebutaan. Wallahu A’lam

Referensi:

Al-Qur’an Al-Kariem

Fiqhus Sunnah LinNisa’, Syaikh Muhammad Kamal bin Sayyid Salim

Fatwa-Fatwa Terkini

40 Hadist Wanita, Muhammad Syakir Syarif

Fatawa Al-Azhar, Maktabah Syamilah

Berbagai Sumber lainnya

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 9 April 2011 in Fiqih Muslimah

 

2 responses to “Kacamata dan Lensa Kontak antara Syar’i dan Medis

  1. Retno

    29 Oktober 2012 at 10:12 am

    assalamu’alaykum wr. wb..
    jazakumullah khairan katsir atas penjelasannya. mohon tanya, bagaimana hukum menggunakan softlens yang warnanya berbeda dari warna asli mata? contohnya warna asli coklat, menggunakan softlens warna lain seperti hitam atau biru…bagaimana bila dibandingkan dengan penggunaan softlens warna coklat atau bening?
    (catatan: dengan alasan mempermudah penglihatan dan tidak selalu dipakai)

     
  2. ZukhruF

    30 Oktober 2012 at 6:59 am

    Wassalamu’alaikum wr.wb
    Menggunakan softline boleh jika memang dibutuhkan, mengenai warna lensa lebih baik yang menyerupai warna asli mata. Sebab, jika dengan warna lain penggunaannya bisa menipu dan matanya seakan-akan tampak lebih indah, maka yang seperti ini dilarang oleh syar’I karena ada unsur penipuan. Sedangkan Islam melarang penipuan. demikian.
    Wallahu a’lam bish-Shawab

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: