RSS

Masalah seputar Qadha shalat yang berkaitan dengan masa haid[1]

20 Feb

Pengertian qadha

Qadha adalah menjalankan ibadah setelah lewat waktunya. Berbeda dengan Ada’ adalah menjalankan ibadah di dalam waktunya.

Hukum Meng-qadha Shalat

Para ulama’ sepakat bahwa mengqadha shalat yang tertinggal (karena udzur) itu wajib. Sebab mengqadha shalat akan membebaskan seorang mukallaf dari tanggungan.[2]

Shalat fardhu atau Shalat lima waktu itu wajib dilaksanakan tepat pada waktunya, berdasarkan firman Allah U,

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً

 “Sesungguhnya Shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisaa’: 103).

Oleh karena itu, barangsiapa mengakhirkannya dari waktu yang telah ditentukan tanpa ada halangan (uzur), maka ia berdosa. Namun, jika dia mengakhirkannya karena suatu halangan, tidaklah berdosa. Halangan-halangan itu ada yang dapat menggugurkan kewajiban Shalat sama sekali dan ada pula yang tidak menggugurkannya

 Hal-Hal yang Menggugurkan Shalat

Ada sejumlah halangan atau uzur yang dapat menggugurkan shalat dari seseorang, yaitu :

1. Haid dan Nifas

Wanita yang sedang haid atau nifas tidak diwajibkan menunaikan Shalat. Juga tidak wajib mengqadha Shalat-Shalat yang ditinggalkan di saat haid dan nifas tersebut, sekalipun dia harus mengqadha puasa. Hal ini berdasarkan sabda Rasul r kepada Fatimah binti Abi Hubaisy, “Jika tenyata darah yang keluar itu haid, maka hentikanlah Shalat.”

Dan Aisyah g juga pernah ditanya, ”Mengapa wanita haid harus mengqadha puasa tapi tidak harus mengqadha shalat? Maka Aisyah menjawab:” Kamipun mengalami hal itu, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa tapi kami tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.”[3]

2. Gila

Kewajiban Shalat itu gugur dari orang gila yang terus-menerus. Namun, orang gila yang kumat-kumatan, ketika sadar wajib mengerjakan Shalat. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah r, “Beban taklif itu diangkat (oleh Allah) dari tiga golongan: orang tidur sampai bangun, anak kecil sampai ia baligh, dan orang gila sampai dia sadar kembali.” (HR Ahmad, Ashabus Sunan, dan Hakim).

3. Pingsan.

Kewajiban shalat akan gugur dari orang yang pingsan jika pingsannya berlangsung dalam dua waktu Shalat yang bisa dijamak, seperti seseorang pingsan sebelum masuk waktu Dzuhur sampai dengan matahari terbenam.

4. Murtad

Seseorang yang murtad (keluar dari Islam) kemudian masuk Islam kembali, maka hukumnya sama dengan orang kafir asli, yakni dia tidak wajib mengqadha Shalat. Tetapi, menurut ulama Syafi’i ia wajib mengqadha semua Shalat yang ia tinggalkan ketika murtad sebagai hukuman kepadanya.[4]

Udzur atau hal-hal yang Membolehkan Mengakhirkan Shalat

1. Tidur   & 2. Lupa

Dalil Hadits:

      1. Dari Anas bin Malik dari Nabi r, beliau bersabda:

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ: وَأَقِمْ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Barangsiapa lupa suatu shalat, maka hendaklah dia melaksanakannya ketika dia ingat. Karena tidak ada tebusannya kecuali itu. Allah berfirman: ‘(Dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku).”(QS Thaha: 14)[5]

     2. Dari Abu Qatadah dia berkata, “Kami pernah berjalan bersama Nabi r pada suatu malam. Sebagian kaum lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sekiranya anda mau istirahat sebentar bersama kami?” Beliau menjawab: “Aku khawatir kalian tertidur sehingga terlewatkan shalat.” Bilal berkata, “Aku akan membangunkan kalian.” Maka merekapun berbaring, sedangkan Bilal bersandar pada hewan tunggannganya, tapi rasa kantuknya mengalahkannya dan akhirnya iapun tertidur. Ketika Nabi r terbangun ternyata matahari sudah terbit, maka beliau pun bersabda: “Wahai Bilal, mana bukti yang kau ucapkan!” Bilal menjawab: “Aku belum pernah sekalipun merasakan kantuk seperti ini sebelumnya.” Beliau lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah U memegang ruh-ruh kalian sesuai kehendak-Nya dan mengembalikannya kepada kalian sekehendak-Nya pula. Wahai Bilal, berdiri dan adzanlah (umumkan) kepada orang-orang untuk shalat!” kemudian beliau berwudhu, ketika matahari meninggi dan tampak sinar putihnya, beliau pun berdiri melaksanakan shalat.”[6]

3. Dari Anas ra, Nabi r bersabda, “Barangsiapa lupa mengerjakan Shalat, hendaklah mengerjakannya bila telah ingat, dan selain itu tidak ada kewajiban kaffarat yang lain.”[7]

Meninggalkan shalat dengan sengaja

Terjadi perbedaan pendapat antara ulama mengenai orang yang meninggalkan shalat karena sengaja apakah ia mengqadha shalat yang ia tinggalkan atau tidak?

Dalam kitab Fiqih Sunnah karangan Sayyid Sabbiq, Menurut madzhab jumhur ia berdosa dan wajib mengqadha shalat. Sebaliknya ibnu Taimiyah berkata, “Orang yang sengaja meninggalkan shalat, tidaklah diperintahkan oleh syara’ mengqadha dan jika diqadhanya juga maka tidak sah, hanya ia harus memperbanyak shalat sunnah.”

Ibnu Hazmin mengupas secara panjang lebar mengenai masalah ini, “Adapun  orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja hingga luput waktunya, maka tidaklah dapat diqadha buat selama-lamanya. Oleh sebab itu hendaklah ia memperbanyak berbuat kebaikan dan mengerjakan shalat-shalat sunnah, agar beratlah timbanagan amalnya pada hari kiamat, hendaklah ia juga bertaubat dan beristighfar kepada Allah.

Dalam kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, karangan Ibnu Rusydi, Jumhur sepakat bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka ia berdosa dan wajib atasnya untuk mengqadha shalat. Meskipun ada yang berpendapat ia tidak mengqadha tapi ia berdosa. Salah satunya Ibnu Hazm.[8]

Cara Mengerjakan Shalat Qadha

Barangsiapa tertinggal mengerjakan Shalat, maka wajib mengqadhanya sesuai dengan cara dan sifat-sifat Shalat yang tertinggal itu.

Mengerjakan Qadha shalat dengan segera

Mengqadha Shalat wajib dilakukan dengan segera, baik Shalat itu tertinggal karena sesuatu uzur yang tidak menggugurkan kewajibannya ataupun tanpa uzur sama sekali[9]. dan qadha ini tidak boleh ditunda-tunda kecuali ada halangan mendesak seperti bekerja untuk mencari rezeki dan menuntut ilmu yang wajib ‘ain baginya, begitu juga makan dan tidur. Dengan hanya mengqadha Shalat bukan berarti seseorang telah bebas dari dosa (karena menunda Shalat tanpa uzur), tetapi ia masih harus bertaubat, sebagaimana taubat tidak bisa menggugurkan kewajiban Shalat, namun harus disertai mengqadha pula. Hal ini karena salah satu syarat bertaubat adalah menghilangkan perbuatan dosa, sedang orang yang bertaubat tanpa mengqadha belum berarti ia telah menghilangkan perbuatan dosa tersebut.[10]

Qadha shalat musafir

 Jika seorang musafir yang menempuh jarak qashar tertinggal Shalat yang empat rakaat, ia mengqadhanya dua rakaat, sekalipun dikerjakan di rumah. Tetapi, menurut ulama Syafi’i dan Hanbali, dalam keadaan terakhir ini, ia mengqadhanya empat rakaat, sebab hukum asal Shalat adalah itmam (menyempurnakan Shalat empat rakaat). Karena itu, ketika di rumah, Shalat dengan itmamlah yang harus dikerjakan. Sebaliknya, jika seorang mukmin tidak dalam perjalanan (di rumah) tertinggal Shalat yang empat rakaat, maka ia harus mengqadhanya empat rakaat pula sekalipun dikerjakan dalam perjalanan.[11]

Qadha shalat sirriyyah dan jahriyyah

Demikian juga, jika ia tertinggal Shalat sirriyyah (yang bacaannya pelan) seperti Dzuhur, maka di waktu mengqadhanya harus secara sirri pula, sekalipun dikerjakan di malam hari. Sebalikmya, jika ia tertinggal Shalat Jahrriyyah (yang bacaannya keras) seperti Shalat Subuh, maka mengqadhanya pun harus keras pula, sekalipun dikerjakan di siang hari. Akan tetapi, menurut ulama Syafi’i yang menjadi patokan adalah waktu di mana qadha itu dilaksanakan. Jadi, seandainya qadha itu dilaksanakan pada malam hari, maka bacaannya harus dikeraskan, sekalipun yang diqadha itu Shalat sirriyyah. Dan sebaliknya, jika di siang hari maka bacaan Shalat harus dipelankan walaupun yang diqadhanya itu Shalat jahriyyah.[12]

Memperhatikan tertib urutan shalat yang diqadha

Dalam mengqadha Shalat yang tertinggal (Shalat faa’itah) hendaknya diperhatikan tertib urutannya satu dengan yang lain. Para ulama sepakat selain para ulama Syafi’i atas wajibnya tertib dalam melakukan qadha’ shalat-shalat yang tertinggal. Shalat yang terdahulu harus di-qadha’ lebih dahulu dari pada yang belakangan. Qadha Shalat Subuh dikerjakan sebelum qadha Dzuhur, dan qadha Dzuhur sebelum Shalat Ashar. Syafi’i mengatakan: Tertib antara shalat yang tertinggal itu hukumnya sunnah, bukan wajib. Orang yang mengqadha’ shalat Isya lebih dahulu, kemudian baru melakukan shalat Maghrib, shalatnya tetap sah.

Di samping itu, hendaklah diperhatikan pula urutan Shalat faa’itah dengan Shalat pada waktunya (Shalat haadhirah). Maka, apabila Shalat faa’itah itu kurang dari lima waktu atau hanya lima waktu, Shalat haadhirah tidak boleh dikerjakan dulu sebelum Shalat faa’itah dikerjakan dengan tertib, selama tidak dikhawatirkan habisnya waktu Shalat haadhirah.[13]

Terlupa dengan shalat faa’itah setelah melakukan shalat haadhirah

Ulama Hanafi berpendapat, jika seseorang setelah mengerjakan Shalat haadhirah teringat akan Shalat faa’itah yang belum dikerjakannya, batallah Shalat haadhirahnya. Orang itu harus mengerjakan Shalat faa’itah dulu dan setelah itu mengulangi Shalat haadhirah. Namun, menurut ulama yang lain, ia tidak harus mengulangi Shalat haadhirah.

Sedang menurut ulama Maliki, sunnah mengulangi lagi Shalat haadhirah setelah mengerjakan faa’itah.

Jika Shalat faa’itah itu enam waktu atau lebih, maka dalam mengerjakannya tidah harus tertib, boleh dikerjakan sebelum Shalat haadhirah ataupun sesudahnya.[14]

Mengqadha shalat dibolehkan pada waktu yang terlarang untuk melakukan shalat nafilah

Maliki, Syafi’I, Hambali berpendapat mengqadha shalat boleh dilakukan setiap saat, sekalipun pada waktu yang terlarang untuk mengerjakan shalat nafilah (sunnah). Berbeda dengan Hanafi, tidak boleh mengqadha shalat pada tiga waktu yang dilarang Shalat, yaitu ketika matahari terbit, matahari berada tepat di tengah langit (waktu istiwa’), dan ketika matahari terbenam. Sedang  pada selain tiga waktu terlarang shalat, maka boleh walaupun dikerjakan sesudah shalat ashar.

Juga dalam satu waktu boleh mengqadha beberapa Shalat yang tertinggal, sebab pengertian qadha adalah melakukan Shalat yang telah lewat waktunya.

Jika terlupa berapa jumlah shalat yang ditinggalkan

Barangsiapa tertinggal sejumlah Shalat, tetapi ia lupa atau tidak tahu persis berapa jumlahnya, maka ia harus mengerjakan qadha sampai merasa yakin bahwa kewajibannya telah terpenuhi.[15]

Permasalahan seputar mengqada shalat sebab haid

©      Jika seorang perempuan haid sebelum ashar, misalnya sedangkan ia belum mengerjakan shalat dhuhur, apakah ia wajib mengganti shalat dhuhur itu setelah ia suci?

  • Abu Malik Kamal dalam kitabnya fiqih sunnah wanita jilid 1 berkomentar mengenai hal ini, “shalat dhuhur  itu telah menjadi wajib baginya sebab ia masih dalam keadaan suci ketika waktu shalat tiba. Maka ia wajib mengganti shalat tersebut dengan syarat ia haid ketika telah masuk waktu untuk melaksanakan satu rakaat shalat dzuhur itu. Hal ini berdasarkan firman Allah U:

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”(Qs an-Nisa’ 103)

©      Bangun tidur untuk melaksanakan sholat shubuh, namun  setelah matahari terbit melihat adanya darah, apakah harus mengulang shalatya?

  • Syeikh utsaimain dalam fatwa-fatwa tentang wanita jilid 1 menjawab: “Ya, wanita yang mengalami seperti itu harus mengulangi shalat tersebut, karena asalnya darah belum keluar,dan jika asalnya darah itu belum ada maka berarti wanita itu telah mendapatkan waktu shalat sebelum ia haidh, akan tetapi yang saya sayangkan  di sini adalah bahwa wanita itu bangun dari tidur setelah matahari terbit untuk melaksanakan shalat subuh, untuk itu maka saya sarankan agar setiap orang selalu waspada dengan memiliki sarana- sarana yang layak untuk membangunkan dirinya dari tidur agar dapat shalat subuh pada waktunya.[16]

©      Telah suci saat shalat ashar atau isya’ apakah wajib melaksanakan dhuhur dan maghrib?

  • Al-lajnah Daimah menjawab,  “Jika seorang wanita telah mendapatkan kesuciannya dari haid atau nifasnya sebelum habisnya waktu shalat yang harus ia kerjakan saat itu, maka diwajibkan baginya untuk melaksanakan shalat itu serta shalat yang bisa dijamak bersama shalat itu. Dengan demikian jika seorang wanita mendapatkan kesucinnya sebelum terbenamnya matahari maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat ashar dan shalat dhuhur. Dan barang siapa yang mendapatkan kesuciannya sebelum terbitnya fajar kedua maka wajib baginya melaksanakan shalat isya dan shalat maghrib dan barang siapa yang mendapatkan kesuciannya sebelum terbitnya matahari maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat subuh.”[17]

©      Jika seorang perempuan suci dari haid sebelum ashar, dan waktu ashar masuk ketika ia sedang bersuci, apakah ia wajib mengganti shalat dzuhur?

  • Abu Malik Kamal berpendapat, “Pada dasarnya, perempuan tersebut wajib mengganti shalat yang ditinggalkannya setelah suci dari haid atau nifas. Maka ia wajib mengerjakan shalat dhuhur dan ashar sebelum matahari tenggelam pada hari itu juga. Demikian pula jika ia suci dari haid sebelum terbitnya fajar maka ia wajib mengerjakan shalat maghrib dan isya’ pada  malam itu, sebab waktu shalat isya’ merupakan waktu bagi pelaksanaan shalat maghrib dalam keadaan darurat.[18]
  • Ibnu Taimiyah berkata madzhab jumhur ulama, seperti imam Malik, Syafi’i dan Ahmad menetapkan bahwa, jika seorang perempuan suci dari haidnya dipenghujung hari, maka ia harus mengerjarkan shalat dhuhur dan ashar pada hari itu. Demikian pula jika ia suci dipenghujung malam maka ia wajib mengerjakan shaat maghrib dan isya’ secara bersamaan sebagaimana dinyatakan Abdurrahman Bin ‘Auf , Abu Hurairah, dan Ibnu Abbas. Alasannya, karena waktu shalat yang terakhir juga merupakan waktu bagi shalat yang pertama dalam keadaan dharurat. Jika seorang perempuan suci dipenghujung hari, maka waktu shalat dhuhur masih tersisa sehingga ia harus melakukannya sebelum shalat ashar. Dan jika ia suci dipenghujung malam, maka waktu shalat maghrib masih tersisa sehingga ia wajib melaksanakannya sebelum shalat isya’.[19]
  • Ibnu Al-Jauzi berpendapat, “Apabila seorang wanita haid telah suci sebelum matahari terbenam(ashar) dia wajib mengerjakan dhuhur dan ashar. Dan apabila ia suci sebelum terbitnya fajar (sebelum shubuh) maka dia wajib mengarjakan shalat maghrib dan isya’ karena waktu shalat yang terakhir menjadikan shalat yang awal pada kondisi jama’ disebabkan udzur. Maka dibolehkan menjadikan waktu yang akhir tersebut untuk menunaikan kewajiban yang belum dilaksanakan, yaitu setelah tidak ada udzur lagi.

Kemudian apabila dia mengalami haid setelah masuk waktu shalat pertama yaitu shalat dhuhur dan ashar, shalat maghrib dan isya’ maka dia diwajibkan mengerjakan shalat yang pertama, ini menurut satu pendapat. Artinya apabila dia telah suci maka dia harus mengqadhanya. Lantas, apakah dia harus mengerjakan shalat waktu kedua  karena dia memperoleh waktu shalat pertama ataukah tidak? Dalah hal ini ada dua pendapat.[20] (Dalam hal ini belum kami temukan dalil dan pendapat yang berkenaan dengan hal ini .pen)

  • Menurut syaikh Abdullah Aziz Bin Baz, jika seorang wanita telah suci dari haidnya diwaktu ashar maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat dhuhur dan ashar dengan menjama’ keduanya menurut pendapat yang paling benar diantara 2 pendapat para ulama, karena kedua waktu shalat itu adalah satu bagi orang yang berhalangan seperti orang sakit dan musafir, dan wanita inipun mendapatkan halangan dikarenkan tertundanya kesuciannya dari darah nifas atau darah haid. Demikian pula jika ia mendapatka kesuciannya disaat isya’, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat maghrib dan isya’ dengan cara menjama’ sebagaimana disebutkan diatas. [21]
  • Pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, berbeda dengan pendapat yang sebelunya, menurut beliau pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah tidak diwajibkan baginya kecuali shalat ashar saja karena tidak ada dalil yang mewajibkan untuk melaksanakan shalat dhuhur. Kaidah pokok ilmu fiqih mengatakan “Asal dari segala sesuatu adalah bebas dari tanggung jawab” kemudian Rasulullah r bersabda, “Barang siapa yang dapat melaksanakan shalat ashar satu rakaat  sebelum terbenam matahari, maka berarti ia telah  mendapatkan shalat ashar.[22]

 ©      Mendapatkan haid beberapa saat setelah masuk waktu shalat, wajibkan mengqadha shalat tersebut setelah suci?

  • Ada perbedaan pendapat diantara para ulama dalam masalah ini, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa tidak diharuskan baginya untuk mengqadha shalat dhuhur itu, karena ia tidak berbuat kelalaian dan juga tidak berdosa sebab memang dibolehkan baginya untuk menunda shalat dhuhur itu hingga akhir waktu shalat. Ada juga yang berpendapat bahwa ia harus mengqadha shalat dhuhur itu berdasarkan ungkapan yang bersifat umum. Pada sabda Rasulullah r,

من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة

Barang siapa yang dapat melaksanakan satu rakaat dari suatu shalat maka berarti ia telah mendapakan shalat itu.

Untuk berhati-hati maka yang lebih baik baginya adalah mengqadha shalat tersebut, karena yang perlu diqadha adalah satu shalat itu saja, yang tidak akan menyulitkannya.[23]

  • Syakh Utsaimin, “Jika seorang wanita mendapatkan haid beberapa saat setelah masuknya waktu shalat dan ia belum melaksanakan shalat itu sebelum datangnya haid maka wajib baginya untuk mengqadha shalat itu jika ia telah suci, hal ini berdasarkan sabda rasul[24]

من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة

“Barang siapa yang dapat melaksanakan satu rakaat dari suatu shalat maka berarti ia telah mendapakan shalat itu.”[25]

Dan jika seorang wanita telah memasuki waktu shalat sekedar satu rakaat, kemudian ia mendapatkan haidh sebelum melakukan shalat itu maka diharuskan baginya untuk mengqodha shalat itu ika ia telah suci.[26]

©      Suci sebelum habisnya waktu shalat, wajibkah melakukan shalat itu?

jika ia suci dari haidh beberapa saat  sebelum  habisnya waktu shalat, maka wajib baginya untuk mengqodha shalat itu, walaupun ia mendapatkan kesuciaanya beberapa saat sebelum terbitnya matahari sekedar waktu yang cukup untuk satu rakaat, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat subuh. Begitu pula jika ia mendapatkan kesuciannya beberapa saat sebelum terbenamnya matahari sekedar waktu yang cukup untuk satu rakaat maka wajib baginya untuk shalat ashar. Jika ia mendapatkan kesuciannya sebelum pertengahan malam sekadar waktu yang cukup untuk satu rakaat maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat Isya. Jika ia mendapatkan kesuciannya beberapa saat sesudah pertengahan malam maka tidak wajib baginya untuk melaksanakan shalat Isya dan diwajibkan baginya untuk melaksanakan shalat shubuh jika telah datang waktu shalat subuh , Allah berfirman :

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً

 “Sesungguhnya Shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

(An-Nisaa’: 103).

Yakni, shalat yang wajib itu ditentukan oleh waktu yang terbatas, yang mana tidak boleh baginya untuk melaksanakan shalat jika telah habis waktunya, juga tidak boleh melaksanakan shalat sebelum tiba waktunya.[27]

©      Apabila shalat yang ditinggalkan jumlahnya banyak, apak juga harus mengqadha shalat sunnahnya ?

  • Syaikh islam ibnu taimiyah berpendapat, “bersegera mengerjakan qadha shalatnya yang banyak itu lebih utama dari pada disibukkan dalam urusan shalat nafilah(sunnah). Namun, jika shalat yang ia qadha hanya sedikit, maka menjalankan shalat sunnahnya sekaligus itu baik. Sebab ketika perang Hunain Nabi r dan para sahabat tertidur, sehingga terlewat waktu shalat fajr, maka beliau dan para sahabat mengqadha shalat fardhu dan shlat sunnah fajar. Namun ketika perang khandhaq beliau mengqadha shalat-shalat fardhu tanpa mengerjakan shalat-shalat sunnah. Wallahu  a’lam[28]

 

Kesimpulan akhir yang kami ambil, bardasarkan perkataan Syeikh Abdullah Bin Jibrin yaitu:[29]

  •   Apabila ia suci sebelum masuknya waktu sholat maghrib, hendaknya ia shalat dzuhur dan ashar.
  •   Apabila ia suci setelah masuknya waktu shalat magrib, hendaknya ia melaksanakan shalat maghrib saja.
  •  Apabila ia suci sebelum masuknya waktu shalat dzuhur,  maka ia tidak harus mengerjakan shalat apapun.
  •  Apabila ia suci setelah isya dan sebelum masuknya waktu shalat fajar, hendaknya ia melaksanakan shalat maghrib dan isya.
  • Apabila ia haid setelah masuknya waktu shalat, maka hendaknya ia mengqodho’ shalat tersebut seteah ia suci.
  •  Apabila ia suci sebelum keluarnya waktu shalat fajar, maka hendaknya ia mengqodha shalat tersebut.
  • Apabila ia suci sebelum masuknya waktu shalat maghrib, hendaknya ia melaksanakan shalat dzuhur dan ashar.
  • Ketika seorang muadzin mengumandangkan adzan  sebagai tanda masuknya waktu shalat, kemudian setelah adzan di kumandangkan  ia haid, maka  tersisa baginya hutang shalat dan ia harus  menunggu hingga suci, kemudian ia mengqodha’nya.

Demikian, semoga bisa diambil manfaatnya……..

ZukhRuF

 

 

Referensi:

_  Abdurrahman Al Jaziri, Kitabul Fiqih ‘Ala Madzahibul Arba’ah jus 1 (Beirut, Libanon: Darul Kutub Al’Alamiyah, cet. 3, tahun 2006 M/ 1427 H)

_  Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, Fatawa An Nisa’ (Madinah: Maktabah Asy Syaruq)

_  Ibnu Rusydi, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid jilid 1 (kairo: Darul Aqidah,  cet. 1, tahun 2004 M/ 1425 H)

_  Amin Bin Yahya al-Wazan, Fatwa-fatwa tentang wanita, jilid 1 (Jakarta: Darul Haq, cet. 5, tahun 1428 H/ 2007 M)

_  Abu Malik Kamal, Fiqih Sunnah Wanita jilid 1 (Jakarta: Pena Pundi Aksara, cet.1, tahun 2007 M)

_  Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah (Bandung: PT Al Ma’arif, cet. 1, tahun 1976 M)

_  Ibnu Al- Jauzi, Ahkam An-Nisa’, terjemahan Amar Syarifuddin Untukmu Wanita Shalihah (Klaten: inas media, cet. 1, tahun 2009 M)

_  Fathul Bukhori Bisyarhi Shahih Bukhari, Imam Hafidz Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani (Kairo: Darul hadits, 1424 h/ 2004M)

http://almanaar.wordpress.com/2007/12/11/hukum-meng-qadha-shalat/


1 Sebelum haid ataupun setelah suci dari haid

[2] Lihat footnote Fatawa An-Nisa’ karangan Ibnu Taimiyyah hal : 30

[3] Fatwa-fatwa tentang wanita, jilid 1 hal:157

[4] Lihat Kitabul Fiqih ‘Ala Madzahibul Arba’ah jus 1 hal 253

[5] (HR. Al-Bukhari no. 597 dan Muslim no. 1102)

[6] HR. Al-Bukhari no.595

[7] HR al-Khamsah/lima imam hadis

[8] Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, hal: 230

[9] Menurut kesepakatan 3 imam: Hanafi, Maliki, Hambali

[10] Lihat Kitabul Fiqih ‘Ala Madzahibul Arba’ah jus 1 hal 254

[11] Lihat Kitabul Fiqih ‘Ala Madzahibul Arba’ah jus 1 hal 255

[12] Ibid hal 255

[13] Ibid hal: 255-256

[14] Lihat footnote Kitabul Fiqih ‘Ala Madzahibul Arba’ah jus 1 hal 255-256

[15] Ibid hal: 257

[16] fatwa-fatwa tentang wanita jilid 1 hal 158

[17] Ibid hal:135

[18] Fiqih sunnah wanita jilid 1, hal: 60

[19] Ibid hal : 61

[20] Untukmu Wanita Sshalihah, Ibnu jauzi hal: 48

[21] Fatwa-fatwa tentang wanita jilid 1, hal 131

[22] Ibid hal:132

[23] Ibid hal: 133

[24] Ibid hal :134

[25] HR Bukhori no. 580 Abu Dawud no. 1123

[26] Fatwa-fatwa tentang wanita hal: 133-134

[27] Fatwa-fatwa tentang wanita, hal,134

[28] Fatawa an-Nisa’ hal 30

 

 
16 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Februari 2012 in Fiqih Muslimah, kajian kita, Muslimah

 

16 responses to “Masalah seputar Qadha shalat yang berkaitan dengan masa haid[1]

  1. Nur Badriyah

    8 April 2013 at 2:05 am

    syukron jiddan atas ilmu dan pengertiannya,sangat bermanfaat buat saya.

     
    • ZukhruF

      9 April 2013 at 2:52 am

      @ Nur Badriyah: Aamiin wa iyyak

       
  2. rojali said

    21 Maret 2014 at 12:48 pm

    mau tanya. gini, sebelum sholat jumat ya sekitar jam 11an aku tidur pas bangun skitar jm 12 an suasana di sekitar udah sepi (gk kedengeran khotib berkutbah) aku kira udah selesai solat jumatnya, terus aku wudhu dan sholat dzuhur. eh selepas sholat dzuhur kedengeran suara iqomah, ternyata sholat jumat baru mau dimulai. itu gimana? sebaiknya apa yg dilakukan? apa harus sholat lagi (sholat jumat) apa gk usah, cukup shalat dzuhur yang tadi aja?

     
    • ZukhruF

      24 April 2014 at 11:14 am

      Tidak mengapa, namun jangan diulangi kembali. Bila kita mengetahui hari ini adalah hari jum’at, maka harus dipersiapkan baik-baik. Bila mengantuk, sebaiknya sebelum tidur memasang alarm atau menyuruh orang lain ataupun saudara untuk membangunkan sebelum waktu shalat jum’at tiba.

      1. dari Abu Qatadah, para sahabat menceritakan kepada Rasulullah saw perihal tidur mereka yang menyebabkan tertunda Shalatnya, maka Rasul bersabda, “Sesungguhnya tidaklah termasuk keteledoran karena tidur, tetapi keteledoran itu di waktu terjaga. Karena itu, jika seseorang di antaramu lupa Shalat atau tertidur hingga meninggalkan Shalat, hendaklah ia melakukannya bila telah ingat atau sadar kembali.” (HR Nasa’i dan Timidzi seraya menyatakannya sebagai hadis yang sahih).

      2.Dari Anas RA, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa lupa mengerjakan Shalat, hendaklah mengerjakannya bila telah ingat, dan selain itu tidak ada kewajiban kaffarat yang lain.” (HR al-Khamsah/lima imam hadis).

      3. Dalam sebuah riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, “Bila seseorang di antaramu tertidur hingga meninggalkan Shalat atau lupa mengerjakannya, hendaknya ia mengerjakannya jika telah ingat, karena Allah berfirman, ‘dan dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku’.” (Thaha: 14).

      Orang 2 yg tidak kena hukum wajib :
      1. orang gila
      2. belum baligh (dewasa)
      3. lupa
      4. tidur

      Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

      إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

      “Sesungguhnya Allah Ta’ala meletakkan (baca: tidak mengaggap), yakni orang yang salah, lupa, dan apa-apa yang dia terpaksa.” (HR. Ibnu Majah, 13/285/6247, berkata Al Haitsami: dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Mushaffa, Abu Hatim dan lannya menilai tsiqah, padanya ada pembicaraan yang tidak mengapa, sementara rijal lainnya, adalah rijal shahih, Majma’ Az Zawaid,6/250. Syaikh Al Albani menshahihkan, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah, 5/43 )

      Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa orang yang lupa, tidaklah dianggap kesalahannya oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala.

      Dalam konteks lupa melakukan shalat Jumat, maka dia wajib qadha, yakni ketika ingat, dengan melakukan shalat zhuhur.

      Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

      اتفق العلماء على أن قضاء الصلاة واجب على الناسي والنائم

      “Ulama sepakat bahwa mengqadha shalat adalah wajib bagi orang yang lupa dan ketiduran.” (Fiqhus Sunnah, 1/247)

      Dalilnya:

      Dari Abu Qatadah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

      إِنَّهُ لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيطٌ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ فِي الْيَقَظَةِ فَإِذَا نَسِيَ أَحَدُكُمْ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

      “Sesungguhnya bukanlah lalai orang yang tertidur, sesungguhnya lalai itu adalah ketika waktu terjaga. maka jika kalian lupa atau tertidur, maka shalatlah ketika mengingatnya.” (HR. At Tirmidzi, 1/296/162. katanya: hasan shahih)

      Jadi, dia harus qadha’ dengan melaksanakan shalat zhuhur …..

      Jangankan yang lupa, yang ingat pun, jika dia terlambat shalat jumat hingga ketinggalan dua rakaat (shalat jumat hampir selesai), maka dia tidak dianggap mendapatan shalat Jumat, dia harus shalat zhuhur empat rakaat, inilah pendapat mayoritas ulama. Sedangkan, menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf, jika seseorang masbuq ketika duduk tasyahhud, maka shalat jumat tetap sah, tinggal menyempurnakan kekekurangannya.

      Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

      وأما من أدرك أقل من ركعة فإنه لا يكون مدركا للجمعة ويصلي ظهرا أربعا (1) في قول أكثر العلماء.
      قال ابن مسعود: من أدرك من الجمعة ركعة فليضف إليها أخرى، ومن فاتته الركعتان فليصل أربعا.
      رواه الطبراني بسند حسن.
      وقال ابن عمر: إذا أدركت من الجمعة ركعة فأضف إليها أخرى، وإن أدركتهم جلوسا فصل أربعا.
      رواه البيهقي.
      وهذا مذهب الشافعية والمالكية والحنابلة ومحمد بن الحسن.
      وقال أبو حنيفة وأبو يوسف: من أدرك التشهد مع الامام فقد أدرك الجمعة فيصلي ركعتين بعد سلام الامام وتمت جمعته.

      “Ada pun mendapatkan kurang dari satu rakaat maka dia tidak dinilai mendapatkan Jumat, maka hendaknya dia shalat zhuhur empat rakaat (1), itulah pendapat mayoritas ulama.
      Berkata Ibnu Mas’ud: “Barang siapa yang mendapatkan shalat Jumat satu rakaat, maka hendaknya dia tambahkan satu rakaat lagi, barang siapa yang luput dua rakaat, maka hendaknya dia shalat empat rakaat (maksudnya zhuhur).” diriwaatkan Ath Thabarani dengan sanad hasan.
      Berkata Ibnu Umar: “Jika kalian mendapatkan shalat Jumat satu rakaat maka tambahkan satu rakaat lagi, tetapi jika kalian mendapatkan jamaah sudah duduk maka shalalah emat rakat.” diriwayatkan oleh Al Baihaqi.

      Wallahu A’lam bi Shawab

       
  3. fahrul

    25 Mei 2014 at 12:29 am

    Assalamu’alaikum
    Saya mau tanya : apabila wanita haid setelah masuk waktu isya’ apakah hanya sholat isya’nya saja yang di qodho’ atau maghrib sama isya’ yg wajib di qodho’?

     
    • ZukhruF

      11 Juni 2014 at 3:25 pm

      Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..
      Apabila sudah masuk waktu isya’ kemudian ia kedatangan haid dan ia belum melaksanakan shalat isya’, maka setelah ia selesai haid dan mandi janabat, wajib mengganti shalat isya’ yang lalu yang ia tinggalkan.
      Dan apabila waktu ia suci itu telah memasuki waktu isya dan sebelum masuknya waktu shalat fajar, hendaknya ia melaksanakan shalat maghrib dan isya, setelah mengqadha’ shalat isya’ yang lalu.
      Wallahu A’lam

       
  4. Yuyun Apriani (@yuyunapriani_)

    3 Juni 2014 at 6:26 pm

    jika saat subuh sudah tidak ada lagi darah yg keluar (haid) lalu memutuskan utk belum bersuci (mandi besar) karena khawatir darah (haid) nya keluar lagi dan melakukannya (mandi besar) saat setelah maghrib, bagaimana hukumnya? disamping itu, karena baru sempat (mandi besar) saat setelah maghrib. mohon penjelasannya. syukron

     
    • ZukhruF

      11 Juni 2014 at 3:39 pm

      Jika darah sudah tidak keluar sebelum subuh dan baru bisa bersuci setelah maghrib, maka ia wajib mengganti shalat-shalat yang ia tinggalkan.
      Untuk kehati-hatian, bila darah haid sudah tidak keuar, dan lama haid sudah selama waktu kebiasaan, segeralah untuk mandi janabat. Sebab melalaikan shalat termasuk dosa besar.
      Wallahu A’lam.

       
  5. Khansa M Widoastiti

    30 Juni 2015 at 1:47 pm

    assalamualaikum wr wb.jika saya mulai haid pada waktu dhuhur dan blm sholat,lalu saya suci pada waktu ashar,lalu sholat apa saja yang wajib di qadha dan bagaimana tata cara nya?..terimakasih

     
    • ZukhruF

      14 Desember 2015 at 8:38 pm

      Wa’alaikumussalam wr wb.Saudari Khansa wajib menggqadha shalat dhuhur yang belum dikerjaan karena datang haid.Lalu shalat dhuhur dan ashar setelah bersuci.
      Dengan urutan melakukan shalat dhuhur (sebelum haid), shalat dhuhur (setelah suci), lalu shalat ashar (setelah suci). Wallahu A’lam.

       
  6. Fauziah Sln

    13 September 2015 at 8:33 am

    assalamualaikum wr wb…
    gimana kalo saya mulai haid udah lewat waktu dzuhur kemudian saya belum shalat. gimana itu? cara mengqadha nya gimana? apa qodha shalatnya setelah suci ?

     
    • ZukhruF

      14 Desember 2015 at 8:45 pm

      Wa’alaikumussalam wr wb,Saudari Fauziah bila telah bersuci wajib mengqadha shalat dhuhur yang belum dikerjaan karena datang haid. mengqadha shalat itu sama tatacaranya dengan shalat fardhu biasanya, tetapi dengan niat qadha. setelah itu baru mengerjakan shalat yang sudah masuk waktu shalat saat sudah suci dari haid.

       
  7. wisnu

    15 November 2015 at 6:48 pm

    ada lagi

     
  8. wisnu

    15 November 2015 at 6:49 pm

    ada lagi tdk

     
  9. ida

    10 Desember 2015 at 7:23 am

    Assalamu’alaikum,,
    jika saat subuh sudah tidak ada lagi darah yg keluar (haid) lalu memutuskan utk belum bersuci karena takut darah (haid) nya keluar lagi, kemudian baru bersuci sekitar jam 9an(pagi), untuk mengganti sholat subuh itu dilakukan di waktu kapan ya????
    Mohon jawabannya terimakasih

     
    • ZukhruF

      14 Desember 2015 at 8:51 pm

      Wa’alaikumussalam, saudari Ida, laksanakan shalat setelah bersuci/mandi janabat. Wallahu A’lam.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: