RSS

Antara Akal, Akhlak, dan Agama

22 Jul

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Ada beberapa golongan orang yang lebih dahulu masuk syurga Adn. Mereka bukan orang yang banyak melakukan shalat, puasa, haji, maupun umrah, tetapi mereka senantiasa memikirkan peringatan-peringatan Allah, lalu hatinya menjadi bergetar, jiwanya menjadi tenang karena bersandar kepadaNya. Kedudukan mereka lebih tinggi dari orang lain tatkala hidup bersama manusia didunia maupun disisi Allah di Akhirat.

Sebagian ulama berkata, “Tatkala Allah menurunkan Adam ke muka bumi. Maka Jibril menyodorkan tiga hal kepadanya, yaitu agama, akhlak, dan akal. Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah menyuruh agar engkau memilih tiga hal ini.”

Adam berkata, “Wahai Jibril saya tidak melihat sesuatu yang lebih baik dari tiga hal itu melainkan ia berada di surga.” Lalu Adam mengulurkan tangannya memilih akal. Lalu merengkuhnya kedirinya, dan berkata pada dua yang lain, “Naiklah kembali keatas!”

Keduanya berkata, “Kami diperintahkan untuk menyertai akal, seperti apapun keadaannya.”

Maka tiga hal itu menyertai Adam, dan hal ini pula merupakan kemuliaan paling tinggi dan karunia paling besar yang diberikan Allah kepada hambaNya. Namun, ketiga-tiganya juga dibuatkan musuh, yaitu hawa nafsu, syetan dan jiwa yang menyuruh kepada keburukan. Peperangan antara kedua belah pihak terus menerus berkecamuk tiada henti. Namun begitu Allah menetapkan,

وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Dan tidak ada kemenangan itu selain dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 126)

Wahab bin Munabbih berkata, “Syetan merasa kesulitan jika menghadapi orang mukmin yang berakal. Dia bisa menggiring seratus orang bodoh, menuntun mereka dan bahkan menunggang diatas bahu mereka, lalu membawa mereka kemana pun  yang dia kehendaki. Dia benar-benar kesulitan berhadapan dengan orang mukmin yang berakal dan membujuknya, sekalipun untuk mendapatkan sedikit apa yang dibutuhkan darinya.

Dia juga berkata, “Merontokkan gunung sebongkah batu demi sebongkah, lebih mudah bagi syetan dari pada membujuk orang Mukmin berakal. Jika dia benar-benar tidak mampu menghadapinya, maka dia beralih kepada orang bodoh lalu menawannya. Syetan bisa menuntunnya hingga menjerumuskannya kepada berbagi macam kehinaan yang dirasakan didunia. Seperti mendapat hukuman rajam, dipotong tangannya, disalib dan kehinaan-kehinaan yang lain. Sementara di akhirat dia akan mendapat neraka dan aib yang sangat menghinakan. Boleh jadi dua orang sama dalam kebaikannya, namun ada perbedaan yang memilahkan keduanya, seperti pemilahan antara timur dan barat, hanya karena akalnya. Allah tidak disembah dengan sesuatu yang lebih baik daripada dengan akal.”

Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Andaikata orang yang berakal itu memiliki dosa pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya ia cenderung masih bisa selamat dari dosa-dosa itu. Andaikata orang yang bodoh itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore sebanyak  bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung tidak bisa mempertahankannya sekalipun hanya seberat biji sawi.”

Ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” dia menjawab, “Sesungguhnya jika orang yang berakal itu tergelincir, maka dia segera menyadarinya dengan cara bertaubat dan menggunakan akal  yang dianugrahkan kepadanya. Tetapi orang bodoh itu ibarat orang yang membangun dan langsung merobohkannya. Karena kebodohannya dia terlalu mudah melakukan apa yang bisa merusak amal shalihnya.”

Al-Hasan berkata, “Agama seseorang tidak menjadi sempurna kecuali dengan kesempurnaan akalnya. Allah tidak memberikan akal kepada seseorang melainkan suatu hari Dia akan menyelamatkannya dengan akal itu.”

Sebagian ahli hikmah berkata, “Barangsiapa yang akalnya bukan merupakan sesuatu yang paling dominan, maka dia akan mati dan binasa karena sesuatu yang paling dicintainya.”

Abdullah bin Al-Mubarak pernah ditanya, “Apakah sesuatu paling baik yang diberikan kepada seseorang setelah islam?”

Dia menjawab, “Naluri akal.”

“Jika tidak begitu?”

Dia menjawab. “Adab yang baik.”

“Jika tidak begitu?”

Dia menjawab. “Saudara yang baik yang bisa dimintai pendapatnya.”

“Jika tidak begitu?”

Dia menjawab. “Banyak diam.”

“Jika tidak begitu?”

Dia menjawab. “Lebih baik segera mati.”

Apabila kekuasaan berada ditangan akal, maka hawa nafsu akan tunduk kepadanya, menjadi pelayan dan pengikutnya. Sebaliknya, jika kekuasaan berada ditangan hawa nafsu, maka akal menjadi tawanan dan bawahannya. Mengingat manusia tidak mungkin melepaskan diri dari hawa nafsu selagi masih hidup, karena memang hawa nafsu merupakan bagian dari dirinya, maka tidak mungkin dia melepaskan diri darinya secara total. Tetapi yang diperintahkan kepadanya adalah mengalihkan hawa nafsu itu dari kenikmatan-kenikmatan yang merusak ke tempat yang aman dan selamat.

Sebagai gambaran, Allah tidak memerintahkan kepadanya agar menutup hatinya untuk tidak menyenangi wanita secara total. Tetapi Allah memerintahkannya untuk membawa hawa nafsu itu kepada pernikahan dengan seorang wanita. Jadi saluran nafsu itu beralih dari satu tempat ke tempat lain yang selamat.

Berbahagialah dan bersyukurlah orang-orang yang dianugrahi akal oleh Allah. Dan ia gunakan akal itu untuk mencari Al-Haqq  dan menggunakannya demi kebaikan di dunia dan akhirat.

Ref: Dicuplik dari Mukadimah kitab Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin karangan Ibnu Qayyim    Al-Jauziyyah dengan sedikit perubahan.

 

 

 

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 22 Juli 2012 in kajian kita, tafakur

 

One response to “Antara Akal, Akhlak, dan Agama

  1. Mrs. Z

    27 Agustus 2012 at 7:29 am

    yup.. bersyukurlah manusia yang punya akal dan menggunakannya sesuai tuntunan syar’i

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: