RSS

Menanamkan Kepada Anak Cinta pada Al-Qur’an

01 Nov

  هُدًى وَرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِينَ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ

“Inilah ayat-ayat Al-Quran yang mengandung hikmah”

“Sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang

kebaikan”[1]

Pentingnya mengajarkan Al-Qur’an pada anak

Anak-anak adalah amanah, titipan dari Allah SWT, Sang Pemilik anak-anak kita. Setiap kita pasti menginginkan kebaikan dan kebahagiaan atas anak-anak kita. Semua orang tua pasti berharap anaknya menjadi anak yang saleh dan shalehah. anak yang berbakti kepada Allah, dan Rasul-Nya serta kedua orang tuanya. dan salah satu cara terpenting untuk menuntun dan mengajarinya adalah dengan memperkenalkan Al- Qur’an. Dengan mendidiknya membaca dan menulis Al-Qur’an sejak masa anak-anak, baik dirumah maupun disekolah, anak bisa memahami makna dan kadungan Al-Qur’an serta  mengarahkan mereka kepada keyakinan bahwa Allah adalah Rabb mereka dan alquran merupakan firmanNya. Hingga mereka akhirnya mencintai Al-qur’an. Jika anak telah mencintai Al-Qur’an sejak dini, maka kecintaan itu akan bersemi pada masa dewasanya kelak, mengalahkan kecintaan anak terhadap hal yang lain, karena masa pembentukan watak utama.

 Perkataan ulama mengenai pengajaran Al-Qur’an

Imam Suyuthi mengatakan, “Mengajarkan Al-qur’an kepada anak-anak merupakan salah satu diantara pilar-pilar islam, sehingga mereka bisa tumbuh di atas fitrah. Begitu juga cahaya hikmah akan terlebih dahulu masuk ke dalam hati mereka sebelum dikuasai oleh hawa nafsu dan di nodai oleh kemaksiatan dan kesesatan.”

Ibnu Khaldun juga menegaskan makna yang sama, dengan mengatakan, “Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak merupakan salah satu syiar islam yang awal mulanya dijalankan oleh para ulama, dan kemudian secara berjenjang ke seluruh wilayah  dakwah karena merasakan mantapnya keimanan dan keyakinan disebabkan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz-lafadz hadits. Dengan demikian, Alqur’an menjadi akar pokok pengajaran yang menjadi pijakan seliruh kemampuan yang lain sesudah itu.”

Demikian juga Ibnu Sina mengatakan, “Jika seorang anak sudah bisa dilatih dan sudah bisa mendengar dengan baik, maka mulailah diajarkan Al-Qur’an kepada mereka, dimulai dengan mengenalkan huruf hijaiyah dan selanjutnya diajarkan ajaran-ajaran agama.”

 Hadist mengenai pengajaran Al-Qur’an

Para sahabat nabi benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Al-Qur’an dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sebagai pelaksanaan atas saranan yang diberikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash,

خِيَا رُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْاَنَ وَ عَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

  At-tabrani meriwayatkan dari Ali ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Didiklah anak-anak kamu pada tiga hal: mencintai Nabimu, mencintai keluarganya, dan membaca Al-quran. Sebab orang-orang yang ahli Al-qur’an itu berada dilindungan singgasana Allah pada hari tiada perlindungan kecuali perlindunganNya beserta para NabiNya dan orang-orang yang suci.”

Metode pengajaran Al-Qur’an pada anak

 Sebelum kita memberi tugas kepada anak-anak kita untuk menghafal Al-Qur’an, maka terlebih dahulu kita harus menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Sebab, menghafal Al-Qur’an tanpa disertai rasa cinta tidak akan memberi faedah dan manfaat. Bahkan, mungkin jika kita memaksa anak untuk menghafal Al-Qur’an tanpa menanamkan rasa cinta terlebih dahulu, justru akan memberi kesan negatif bagi anak. Sedangkan mencintai Al-Qur’an disertai menghafal akan dapat menumbuhkan perilaku, akhlak, dan sifat mulia.
Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, iaitu dengan cara keteladanan. Kerana itu, jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an.
Hal tersebut boleh dilakukan dengan cara memuliakan kesucian Al-Qur’an, misalnya memilih tempat paling mulia dan paling tinggi untuk meletakkan mushaf Al-Qur’an, tidak meletak barang apapun di atasnya dan tidak meletakkannya di tempat yang tidak sepatutnya, bahkan membawanya dengan penuh kehormatan dan rasa cinta, sehingga hal tersebut akan merasuk ke dalam alam bawah sedarnya bahawa mushaf Al-Qur’an adalah sesuatu yang agung, suci, mulia, dan harus dihormati, dicintai, dan disucikan.
Sering memperdengarkan Al-Qur’an di rumah dengan suara merdu dan syahdu, tidak memperdengarkan dengan suara keras agar tidak mengganggu pendengarannya. Memperlihatkan pada anak kecintaan kita pada Al-Qur’an, misalnya dengan cara rutin membacanya.
 
Adapun kaedah yang boleh digunakan anak mencintai Al-Qur’an diantaranya adalah:
 
a.    Bercerita kepada anak dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Qur’an.
Mempersiapkan cerita untuk anak yang bisa menjadikannya mencintai Allah Ta’ala dan Al-Qur’an Al-Karim, akan lebih bagus jika kisah-kisah itu diambil dari Al-Qur’an secara langsung, seperti kisah tentang tentara gajah yang menghancurkan Ka’bah, kisah perjalanan nabi Musa dan nabi Khidir, kisah Qarun, kisah nabi Sulaiman bersama ratu Bilqis dan burung Hud-hud, kisah tentang Ashabul Kahfi, dan lain-lain.
Sebelum kita mulai bercerita kita katakan pada anak, “Mari Sayangku, bersama-sama kita dengarkan salah satu kisah Al-Qur’an.”Sehingga rasa cinta anak terhadap cerita-cerita itu dengan sendirinya akan terikat dengan rasa cintanya pada Al-Qur’an. Namun, dalam menyampaikan cerita pada anak harus diperhatikan pemilihan waktu yang tepat, pemilihan bahasa yang sesuai, dan kalimat yang terkesan, sehingga ia akan memberi pengaruh yang kuat pada jiwa dan akal anak.
 
b.    Sabar dalam menghadapi anak.
Misalnya ketika anak belum bersedia menghafal pada usia ini, maka kita harus menangguhkannya sampai anak benar-benar bersedia. Namun kita harus selalu memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepadanya.
 
c.    Menggunakan cara pemberian penghargaan untuk memotivasi anak.
Misalnya jika anak telah menyelesaikan satu surah kita ajak ia untuk jalan-jalan/rekreasi, atau dengan menggunakan lembaran prestasi/piagam penghargaan, sehingga anak akan semakin terdorong untuk mengahafal Al-Qur’an.
 
d.    Menggunakan kata-kata semangat untuk mengarahkan anak mencintai Al-Qur’an.
Misalnya :
Saya mencintai Al-Qur’an.
Al-Qur’an Kalamullah.
Allah mencintai anak yang cinta Al-Qur’an.
Saya suka menghafal Al-Qur’an.
 
Atau sebelum menyuruh anak memulai menghafal Al-Quran, kita katakan kepada mereka, “Al-Qur’an adalah kitab Allah yang mulia, orang yang mau menjaganya, maka Allah akan menjaga orang itu. Orang yang mau berpegang teguh kepadanya, maka akan mendapat pertolongan dari Allah. Kitab ini akan menjadikan hati seseorang baik dan berperilaku mulia.”
 
e.    Menggunakan sarana menghafal yang inovatif.
Hal ini disesuaikan dengan keperibadian dan kecenderungan si anak (cara belajarnya), misalnya :
  • Bagi anak yang dapat memberi tumpuan dengan baik melalui pendengarannya, dapat menggunakan media penghafalan seperti kaset, atau program penghafal Al-Qur’an digital, agar anak boleh mempergunakannya bila-bila saja, serta sering memperdengarkan kepadanya bacaan Al-Qur’an dengan lantunan yang merdu dan indah.
  • Bagi anak yang peka terhadap sentuhan, memberikannya Al-Qur’an yang cantik dan terlihat indah saat di bawanya, sehingga ia akan suka membacanya, kerana ia ditulis dalam lembaran-lembaran yang indah dan rapi.
  • Bagi anak yang dapat dimasuki melalui kaedah visual, maka boleh mengajarkannya melalui video, komputer, layar projektor, melalui papan tulis, dan lain-lain yang menarik perhatiannya.
 f.     Memilih waktu yang tepat untuk menghafal Al-Qur’an.
Hal ini sangat penting, kerana kita tidak boleh menganggap anak seperti alat yang dapat dimainkan pada bila-bila masa saja, serta melupakan keperluan anak itu sendiri. Kerana ketika kita terlalu memaksa anak dan sering menekannya dapat menimbulkan kebencian di hati anak, disebabkan dia menanggung kesulitan yang lebih besar. Oleh kerana itu, jika kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di hati anak, maka kita harus memilih waktu yang tepat untuk menghafal dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.
 
Adapun waktu yang dimaksud bukan saat seperti di bawah ini:
  • Setelah lama bermain, dan baru tidur sebentar,
  • Setelah melakukan aktiviti fizikal yang memenatkan,
  • Setelah makan dan kenyang,
  • Waktu yang direncanakan anak untuk bermain,
  • Ketika anak dalam keadaan psikologi yang kurang baik,
  • Ketika terjadi hubungan tidak harmoni antara orangtua dan anak, supaya anak tidak membenci Al-Qur’an disebabkan perselisihan dengan orangtuanya.
 Kemudian hal terakhir yang tidak kalah penting agar anak mencintai Al-Qur’an adalah dengan membuat anak-anak kita mencintai kita, kerana ketika kita mencintai Al-Qur’an, maka anak-anak pun akan mencintai Al-Qur’an, kerana mereka mengikuti orang yang dicintai.
 Adapun beberapa cara agar anak-anak kita semakin mencintai kita antara lain:
  1. Senantiasa bergantung kepada Allah, selalu berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anak-anak. Dengan demikian Allah akan memberikan taufikNya dan akan menyatukan hati kita dan anak-anak.
  2. Bergaul dengan anak-anak sesuai dengan peringkat umurnya,iaitu sesuai dengan kaedah, “Perlakukan manusia menurut kadar akalnya.” Sehingga kita akan dengan mudah menembus hati anak-anak.
  3. Dalam memberi pengarahan dan nasihat, hendaknya diterapkan kaedah yang pelbagai supaya anak tidak merasa jemu saat diberi pendidikan dan pengajaran.
  4. Memberikan denda kepada anak dengan cara tidak memberikan hadiah atau menundanya sampai waktu yang ditentukan adalah lebih baik daripada memberikan denda berupa sesuatu yang merendahkan diri anak. Tujuannya tidak lain supaya anak menghormati dirinya sendiri sehingga dengan mudah ia akan menghormati kita.
  5. Memahami kemahiran dan hobi yang dimiliki anak-anak, supaya kita dapat memasukkan sesuatu pada anak dengan cara yang tepat.
  6. Berusaha dengan sepenuh hati untuk bersahabat dengan anak-anak, selanjutnya memperlakukan mereka dengan bertolak pada dasar pendidikan, bukan dengan bertolak pada dasar bahawa kita lebih utama dari anak-anak, mengingat kita sudah memberi makan, minum, dan menyediakan tempat tinggal. Hal ini secara automatik akan membuat mereka taat tanpa pernah membantah.
  7. Menguruskan hal-hal yang dapat menghalangi kebahagiaan dan ketenangan hubungan kita dengan anak-anak.
  8. Mengungkapkan rasa cinta kepada anak, baik  dengan lisan maupun perbuatan.
 Itulah beberapa point cara untuk menumbuhkan rasa cinta anak kepada Al-Qur’an. Semoga kegiatan menghafal Al-Qur’an menjadi hal yang menyenangkan bagi anak-anak, sehingga kita akan mendapat hasil sesuai yang kita harapkan.

Referensi:

  • Alqur’anul Karim
  • Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi
  • Dr. Sa’ad Riyadh, Agar Anak Mencintai Al-Qur’an
  • Dr. Abdullah Nashih Ulwan, pendidikan anak dalam islam, jilid 1
  • Syarifudin, Mendidik Anak Membaca Menulis Dan Mencintai Al-Qur’an, GEMA INSANI

 

 


[1] Q.S Luqman: 2 – 3

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 November 2012 in Muslimah, tarbiyah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: